Breaking News

Al-Qur'an

Metode Baca Al-Qur'an

Akidah

Akhlak

Kamis, 28 Mei 2015

TAFSIR SURAT AL-`ALAQ AYAT 1 – 5 (Segumpal Darah)



        ﭿ                                                
Surat Al-`Alaq terdiri dari 19 ayat, disepakati sebagai surat Makkiyyah, bahkan lima ayat yang pertama yakni  ayat 1 s/d ayat 5 merupakan wahyu Al-Qur’an yang pertama kali diterima oleh Nabi kita Muhammad Rosululloh r sewaktu beliau bertahannuts/berkholwat (nyepi/menyendiri) di gua khira’.
Diriwayatkan oleh Bukhori, Muslim dan Ahmad dari ‘Aisyah RA. Ia berkata : wahyu yang mula-mula diterima oleh Nabi r adalah berupa mimpi yang benar. Setiap kali beliau bermimpi, maka pada siang harinya mimpi itu menjadi kenyataan.
Kemudian hati beliau tertarik untuk menyendiri/kholwat di gua khira’ dengan membawa perbakalan secukupnya. Bila habis beliau kembali ke rumah Khodijah untuk mengambil perbekalan lagi hingga datanglah wahyu kepada beliau secara tiba-tiba. Malaikat Jibril datang seraya berkata: [bacalah !].
Rosululloh r bersabda : Maka aku katakan مَاأَقْرَأُ/ مَا اَنَا بِقَارِئٍ (apa yang aku baca/aku tidak bisa membaca), lalu dia menarik dan mendekapku hingga aku kepayahan. Kemudian ia melepaskanku dan berkata: “bacalah !” aku menjawab: “apa yang aku baca aku tidak bisa membaca”, dia mendekapku lagi untuk ketiga kalinya hingga aku kepayahan. Kemudian dia melepaskanku lagi lalu ia berkata:
        ﭿ                                                
Kemudian Nabi r pulang dalam keadaan menggigil, sampai masuk dirumah Khodijah, ia berkata: “selimuti aku ! selimuti aku !” maka beliau di selimuti oleh Khodijah hingga hilang rasa takutnya. Lalu beliau berkata: “wahai Khodijah ! apa yang terjadi pada diriku”, sambil menceritakan semua kejadian yang baru di alaminya itu, dan beliau berkata: “sesungguhnya aku khawatir sesuatu akan terjadi pada diriku”.
Khodijah menenangkan hati beliau dengan berkata tidak usah takut bergembiralah ! Demi Alloh, Alloh U  sama sekali tidak akan menghinakanmu. Engkau selalu bersilaturrahim, berbicara dengan jujur, memikul beban tanggung jawab, memuliakan tamu dan menolong sesama manusia demi menegakkan pilar kebenaran.
Kemudian Khadijah mengajak beliau menemui Waroqoh bin Naufal yang telah berusia lanjut dan buta anak paman Khadijah. Ia beragama Nasroni, ia pandai membaca dan menulis dan menulis Injil dalam bahasa arab.
Lalu Khadijah berkata: “Wahai anak pamanku ! tolong dengarkanlah kabar dari anak saudaramu ini (Muhammad)”, lalu Waroqoh bertanya, “wahai anak saudaraku ! apa yang terjadi pada dirimu ?” maka Rosululloh r menjelaskan segala peristiwa yang telah di alaminya lalu Waroqoh berkata : “inilah Namus (Malaikat Jibril) yang pernah di utus kepada Nabi Musa”. Alangkah baiknya jika aku masih muda dan masih hidup di waktu engkau di usir oleh kaummu .
Lalu Rosululloh r bertanya: “apakah mereka akan mengusirku ?” Waroqoh menjawab : “Ya, tidak ada seorangpun yang datang membawa apa yang engkau bawa kecuali ia pasti dimusuhi. Apabila aku mendapati hari itu, niscaya aku akan menolongmu dengan sekuat tenaga”. Tidak lama kemudian Waroqoh meninggal dunia. HR. Bukhori No. 3, Muslim No. 160  dan Ahmad No. 25959.
        ﭿ
bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
Kandungan surat 94 (Alam Nasyroh) menyebutkan tentang aneka nikmat yang telah dianugerahkan Alloh U kepada Nabi Muhammad r hal itu menunjukkan kebersamaan Alloh dengan Rosul-Nya, agar beliau tidak ragu dan tidak pula berkecil hati dalam menyampaikan risalah, yakni Tahaddus bin Ni’mah yang sesuai dengan apa yang diperintahkannya pada surat Ad-Dhuha              
. Di awal surat Al-Alaq ini beliau diperintah untuk membaca, yaitu membaca wahyu-wahyu yang tidak lama lagi akan di turunkan kepadamu dan baca juga keadaan masyarakatmu serta alam sekitarnya. Bacalah agar engkau Muhammad membekali dirimu dengan kekuatan pengetahuan dengan syarat   [dengan menyebut nama tuhanmu] yakni ikhlas karena Alloh semata, karena Dialah yang telah menciptakan semua makhluk kapan dan dimanapun.
     
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Manusia adalah makhluk pertama yang disebut dalam Al-Qur’an melalui wahyu pertama. Bukan saja karena ia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya dan bukan pula karena sesuatu di alam raya ini diciptakan dan ditundukkan Alloh U demi kepentingan manusia, tetapi yang paling utama yaitu Al-Qur’an diturunkan,  ditujukan kepada manusia guna menjadi pelita kehidupannya. Salah satu cara yang ditempuh Al-Qur’an agar manusia menghayati kandungannya adalah dengan memperkenalkan jati diri manusia melalui asal usul kejadiannya.
    
Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
Perintah mengulangi membaca pada ayat ini menunjukkan bahwa Alloh yang Maha mulia lagi pemurah menjanjikan pada seseorang yang mengulangi membaca dengan ikhlas karena Alloh, maka Alloh akan menganugerahkan kepadanya ilmu pengetahuan, pemahaman dan wawasan baru walaupun yang dibaca itu-itu juga.
Apa yang dijanjikan ini terbukti secara jelas bahwa kegiatan membaca Al-Qur’an menghasilkan penafsiran-penafsiran yang tidak terhingga banyaknya. Demikian pula kegiatan membaca alam raya ini telah menghasilkan penemuan-penemuan baru yang membuka rahasia-rahasia alam walaupun obyek bacaannya itu-itu juga.
   
yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
Tuhan yang Al-Akrom itu adalah Alloh yang telah menjadikan pena sebagai alat untuk melahirkan buah pikiran dengan tulisan dan untuk memberi pengertian kepada orang lain, sebagaimana lidah adalah alat untuk melahirkan pikiran dengan ucapan.
        
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Dialah Alloh yang telah mengajarkan manusia segala macam ilmu yang dengan ilmu-ilmu itulah manusia berbeda dengan binatang. Walaupun pada mulanya manusia tidak mengetahui apa-apa.
Dalam sebuah kalimat hikmah disebutkan “Ikatlah ilmu dengan tulisan” dan ada juga kalimat hikmah yang menyebutkan “Siapa yang mengamalkan ilmu yang ia ketahui maka Alloh akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum ia ketahui”. (Sohih Tafsir Ibnu Katsir juz 30 hal. 649).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Published.. Blogger Templates